Nikah Muda, Survey Membuktikan .....

Survey yg sy lakukan masih berlangsung,responden adalah teman2 saya, cowok-cewek dgn berbagai bidang pekerjaan, profesi, latarbelakang ... namun pada range usia2 muda 17-25, dan status belum nikah

Survey membuktikan bahwa : (Kondisi 26/06/08:1128)
1. 70% ingin nikah muda, semakin hari polling berlangsung --semakin turun ternyata ... hehehe
2. 16% ingin, namun masih menunggu sesuatu (bs perkerjaan, bs kuliah, bs finansial, bs kesiapan mental, bs menunggu ketemu jodoh, dll) ... ini masih perkiraan saya .. masih belum terbukti secara obyektif
3. 4% yang tidak ingin nikah muda, artinya ga ada yg pengen nikah d usia tua tuh .., maksutny gimana ya...kok ada yg ngisi ini ... pengertian muda = berapa tahun ??
4. 8% yang no comment, artinya ya no comment .. (kayak kata Desy Ratnasari ketika d tanyai paparazzi infotainment... no comment ... no comment ... pokoknya no comment ...)

Survey ini tetap akan berlangsung hingga waktu yang belum d tentukan ke depan dengan hasil yang belum final dan belum mencerminkan kondisi sesungguhnya (malah ada yg bilang ... ga real nih, yg d polling teman2 nya sendiri ...)

Terlepas dari itu, setidaknya ini bisa menunjukkan potensi kecendrungan nikah muda ini d kalangan remaja saat ini ... SO ???

Jalan Menuju ke Lokasi ...




Untuk menuju ke lokasi, mudah akses nya, asal niat lillahita ala dan punya duit, insya ALLAH sampe

cara 1: klo g bawa kendaraan sendiri, nyampe dulu ke Terminal Bojonegoro, setelah itu bisa naik ojek, bayar 5 ribu, dan d antar ke tempat tujuan

cara 2: klo bawa kendaraan sendiri, ato numpang ato nunut kendaraan teman... dari arah surabaya
terus masuk ke pertigaan Terminal Bojonegoro, jangan belok kanan, terus aja ke arah kota, terus ada pos polisi Jambean belok kanan, itu jalan Basuki rahmat, ikutin aja jalan basuki rahmat itu, kira2 300-400 meter nanti ada gang kecil (Aspol namanya) , Nah .. itu masuk aja, nyampe deh

Jalan yg bs d lalui ke Bojonegoro ....



Untuk ke Kota Bojonegoro, ada beberapa jalan yg bisa d lalui

Jalan Darat :
Dari Jakarta :
a. Naik Kereta Agro Anggrek, Gumarang, Sembrani ke arah Surabaya, dari Surabaya naik bus kota ke wilangun, kemudian ambil bus ke arah Bojonegoro (lama perjalanan 3 jam dr SBY)
b. Naik Kereta Agro Anggrek, Gumarang, Sembrani ke arah Surabaya, turun Stasiun Cepu, kemudian ambil bus ke bojonegoro (lama perjalanan 1 jam)

Dari Malang :
a. Naik Mobil sendiri, mending lewatin Surabaya (lewat TOL), terus ke arah Lamongan, Babat dan Bojonegoro (lama perjalanan 4 jam)
b. Klo naik bus, mending k Surabaya dulu, naik bus kota ke WIlangun, terus naik bus ke arah Bojonegoro

Jalan Laut :
a. Dari Tanjung Priok, naik kapal laut ke arah Tanjung Perak Surabaya, dan ikutin jalur bus d atas (dari Surabaya)
b. ato Dari Tanjung Priok, naik kapal laut, terus klo dah nyampe Tuban, berenang ke laut, ambil jurusan Tuban-Bojonegoro (lama perjalanan belum tahu, ga pernah nyoba)

Jalan Udara :
a. Naik pesawat dari Soekarno Hatta, kemudian bisa turun Juanda Surabaya, dan ikutin jalur bus d atas (dari Surabaya)
b. ato Naik pesawat dari Soekarno Hatta, klo kira2 dah nglewatin Cepu-Bojonegoro, siap2 ambil parasut, dan terjun payung (hati2 ya ) ... (lama perjalanan belum tahu, ga pernah nyoba)

Bojonegoro .... dari dulu aku memang penasaran dgn kota ini


tuh yg warnanya merah .... d peta


Kabupaten Bojonegoro, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bojonegoro. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Tuban di utara, Kabupaten Lamongan di timur, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, dan Kabupaten Ngawi di selatan, serta Kabupaten Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salah satu sumber deposit minyak bumi terbesar di Indonesia.

Sejarah


Masa kehidupan sejarah Indonesia Kuno ditandai oleh pengaruh kuat kebudayaan Hindu yang datang dari India sejak Abad I. Hingga abad ke-16, Bojonegoro termasuk wilayah kekuasaan Majapahit. Seiring dengan berdirinya Kesultanan Demak pada abad ke-16, Bojonegoro menjadi wilayah Kerajaan Demak. Dengan berkembangnya budaya baru yaitu Islam, pengaruh budaya Hindu terdesak dan terjadilah pergeseran nilai dan tata masyarakat dari nilai lama Hindu ke nilai baru Islam tanpa disertai gejolak. Peralihan kekuasaan yang disertai pergolakan membawa Bojonegoro masuk dalam wilayah Kerajaan Pajang (1586), dan kemudian Mataram (1587).

Pada tanggal 20 Oktober 1677, status Jipang yang sebelumnya adalah kadipaten diubah menjadi kabupaten dengan Wedana Bupati Mancanegara Wetan, Mas Tumapel yang juga merangkap sebagai Bupati I yang berkedudukan di Jipang. Tanggal ini hingga sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Bojonegoro. Tahun 1725, ketika Pakubuwono II (Kasunanan Surakarta) naik tahta, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan dari Jipang ke Rajekwesi, sekitar 10 km sebelah selatan kota Bojonegoro sekarang.

Budaya

Budaya Wong Samin di Bojonegoro

Dusun Jepang, salah satu dusun dari 9 dusun di Desa Margomulyo yang berada di kawasan hutan memiliki luas 74, 733 hektar. Jarak sekita 4,5 kilometer dari ibukota Kecamatan Margomulyo, 69 kilometer arah barat-selatan atau kurang lebih denga jarak tempuh antara 2-2,5 jam perjalanan dengan kendaraan dari ibu kota Bojonegoro dan 259 kilometer dari ibukota Propinsi Jawa Timur(Surabaya).

Masyarakat Samin yang tinggal di dusun tersebut, adalah figur tokoh atau oran-orang tua yang gigih berjuang menentang Kolonial Belanda dengan gerakan yang dikenal dengan Gerakan Saminisme, yang dipimpin oleh Ki Samin Surosentiko. Dalam Komunitas Samin tidak ada istilah untuk membantu Pemerinrtah Belanda seperti menolak membayar pajak, tidak mau kerja sama, tidak mau menjual apalagi memberi hasil bumi kepada Pemerintah Belanda. Prinsip dalam memerangi kolonial Belanda melalui penanaman ajaran Saminisme yang artinya sami-sami amin (bersama-sama) yang dicerminkan dan dilandasi oleh kekuatan, kejujuran, kebersamaan dan kesederhanaan.

Sikap perjuangann mereka dapat dilihat dari profil orang samin yakni gaya hidup yang tidak bergelimpangan harta, tidak menjadi antek Belanda, bekerja keras, berdoa, berpuasa dan berderma kepada sesama. Ungkapan-ungkapan yang sering diajarkan antara lain : sikap lahir yang berjalan bersama batin diungkapkan yang berbunyi sabar,nrimo,rilo dan trokal (kerja keras), tidak mau merugikan orang lain diungkapkan dalam sikap sepi ing pamrih rame ing gawe dan selalu hati-hati dalam berbicara diungkapkan 'Ojo waton ngomong, ning ngomong kang maton'. Lokasi masyarakat Samin (dusun Jepang) memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi obyek Wisata Minat Khusus atau Wisata Budaya Masyarakat Samin melalui pengembangan paket Wisata Homestay bersama masyarakat Samin. Hal yang menarik dalam paket ini ialah para wisatawan dapat menikmati suasana dan gaya hidup kekhasan masyarakat Samin. Untuk rintisan tersebut, kebijakan yang telah dilakukan adalah melalui penataan kampung dan penyediaan fasilitas sosial dasar.

Berangkatlah kamu (Surah At Taubah 41 : 9:41) .... Doanya Agar Dilahap Burung Dikabulkan Allah ....


Abu Qudamah, salah seorang komandan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang Romawi berkisah, “Ketika aku jadi Amir (komandan pasukan), aku pernah memerintahkan kaum Muslimin agar berpartisipasi dalam jihad di jalan Allah. Lalu datanglah seorang wanita membawa secarik kertas dan bungkusan (kantong), lalu aku buka kertasnya untuk membaca dan melihat apa isinya, ternyata di dalam kertas itu tertulis, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim, dari seorang wanita, hamba Allah kepada Amir (komandan) pasukan kaum Muslimin. Salaamullah ‘alaika, amma ba’du: sesungguhnya engkau telah memerintahkan kami agar berpartisipasi dalam jihad di jalan Allah sedangkan aku tidak punya daya upaya untuk berjihad atau pun berperang. Karena itu, aku titipkan kantong ini yang berisi rambutku. Silahkan ambil agar diikatkan ke kudamu, semoga saja Allah mencatatkan bagiku sesuatu dari pahala para mujahidin.”

Abu Qudamah melanjutkan, “Aku pun bersyukur kepada Allah karena telah menganugerahkan wanita tersebut taufiq dan tahulah aku bahwa kaum Muslimin ikut merasakan betapa besar kewajiban yang harus diemban dan bersatu padu untuk menghadapi musuh-musuh mereka. Tatkala kami sudah menghadapi musuh, aku melihat seorang anak yang masih ingusan, yang aku pikir belum layak untuk ikut berperang karena usianya yang terlalu muda. Karenanya, aku pun menghardiknya karena kasihan terhadapnya. namun dia malah berkata, ‘Bagaimana bisa kamu menyuruhku kembali padahal Allah telah berfirman, Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.s.,at-Taubah:41).’

Lalu aku tinggalkan dia, kemudian dia menyongsongku seraya berkata, ‘Tolong pinjamkan aku 3 buah anak panah.’

Lalu aku berkatanya seraya terkagum-kagum terhadapnya sekaligus kasihan, ‘Aku akan pinjamkan kepadamu apa yang kamu mau asalkan nanti bila Allah menganugerahimu mati syahid, kamu tidak lupa meminta syafa’at (pertolongan) untukku –ketika berbicara dengannya seakan aku merasa begitu mencintai dan menghormatinya-.
‘Ya, insya Allah,’ katanya
Aku pun memberinya tiga buah anak panah tersebut, kemudian ia menyongsong musuh dengan gagah dan bersemangat. Dia terus menghantam musuh-musuhnya, sementara musuh-musuh pun berhasil melukainya hingga akhirnya dia tersungkur jatuh di medan peperangan. Sepanjang jalannya peperangan, mataku tidak lepas-lepas dari menatapnya karena begitu terkagum-kagum sekaligus kasihan terhadapnya. Tatkala dia sudah jatuh tersungkur, aku menghampirinya dan berkata kepadanya, ‘Apakah kamu mau makan atau minum.?’
‘Tidak, aku malah bersyukur kepada Allah atas apa yang kualami ini akan tetapi aku punya hajat (wasiat) kepadamu.’
‘Dengan senang hati wahai anakku, perintahkan kepadaku apa yang kamu maui,’ jawabku
‘Tolong sampaikan salamku untuk ibuku, kemudian berikanlah barang-barang ini kepadanya,’ pesannya dalam detik-detik terakhir menghembuskan nafasnya
‘Siapa ibumu, wahai pemuda,’ tanyaku
‘Ibuku adalah wanita yang telah memberimu rambutnya itu agar diikat ke kudamu ketika ia tidak mampu untuk ikut berperang di jalan Allah, jawabnya
‘Semoga Allah memberkahi keluargamu,’ kemudian dia pun berpisah dengan alam dunia yang fana ini.
Lalu aku lakukan apa yang semestinya, namun tatkala telah aku kuburkan, tiba-tiba bumi memuntahkan jasadnya, lalu aku ulangi lagi sekali lagi, namun bumi kembali memuntahkannya. Lalu aku gali sedalam-dalamnya kemudian menguburkannya tetapi tetap saja bumi memuntahkannya lagi. Aku berkata dalam hati, ‘barangkali saja ketika keluar untuk berjihad, dia tidak mendapat restu dari ibunya.’ Lantas aku melakukan shalat dua raka’at dan berdoa kepada Allah agar menyingkap rahasia mengenai si anak ini. Tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata, ‘Wahai Abu Qudamah, tinggalkan urusan Wali Allah tersebut.!’ Maka, tahulah aku bahwa ada janji Allah bersamanya. Tatkala kami sedang terpaku melihat hal itu semua, tiba-tiba datang seekor burung menyongsong lalu memakannya. Aku pun terheran-heran dengan peristiwa itu. Kemudian aku kembali menemui ibunya untuk melaksanakan wasiat putranya tersebut. Maka, tatkala dia melihatku, berkatah ia, ‘Wahai Abu Qudamah, apa yang ada di balik kedatanganmu; ingin melawat (ta’ziah) atau mengucapkan selamat.?’
Aku balik bertanya kepadanya, ‘Apa maksudnya itu.?”
“Jika putraku telah meninggal biasa, berarti kamu datang untuk berta’ziah. Tetapi jika ia terbunuh di jalan Allah dan mati syahid, berarti kamu datang untuk mengucapkan selamat,” katanya
Lalu aku menceritakan kepadanya kisah putranya tersebut; aku ceritakan perihal burung dan apa yang dilakukannya terhadapnya. Maka berkatalah sang ibu tersebut,
“Sungguh, Allah telah mengabulkan doanya.”
“Apa doanya,?” tanyaku
“Sesungguhnya dia selalu berdoa kepada Allah di dalam semua shalatnya, penyendiriannya, di pagi dan sore harinya, ‘Ya Allah kumpulkanlah aku di dalam tembolok (penampungan makanan) burung. Segala puji bagi Allah karena telah merealisasikan cita-citanya dan mengabulkan doanya,”jawabnya
Abu Qudamah mengakhiri kisahnya, “Lalu aku pun berpaling darinya dengan memetik sebuah pengetahuan berharga kenapa Allah mencatatkan kemenangan atas kami terhadap para musuh.”

(SUMBER: Mi`atu Qishshah Wa Qishshah Fii Aniisi ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin, karya Muhammad Amin al-Jundy, h.45-4 )
Diambil dari: www.alsofwah.or.id

[ tsabita-family ] ada apa dengan 6 Juli .... ???





Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh

Ternyata tanggal 6 Juli bukan hanya biasa saja
ada yang istimewa dari 6 juli

6 Juli adalah hari yg bersejarah bagi kami

Khoriyati Kusumaningtyas (Math 02) - ITS dan Nizar Ihromi Hidayat - (C12)






Oleh karena itu kami mengharap kehadiran kakak2, adek2 dan teman2 sekalian

Akad :
Pada Hari/Tanggal : Ahad 6 Juli 2008
Pukul : 8.30 WIB

Resepsi :
Pada Hari/Tanggal : Ahad 6 Juli 2008
Pukul : 10.00-12.00 WIB

Bertempat di Masjid Al Maun (Komplek Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah)
Jl Basuki Rahmat Gg Aspol Sukorejo Bojonegoro

Merupakan suatu kehormatan bagi kami apabila temen2 memberikan doa restu nya

"Surah At Taubah 41 : 9:41.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat,
dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Hormat kami,

Nizar Ihromi Hidayat & Khoiriyati Kusumaningtyas


Wassalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh